Rabu, 15 Mei 2013

SEJARAH DAN LEGENDA DESA SE KEC BUNGAH GRESIK



1. LEGENDA TERJADINYA PULAU MENGARE DAN DESA WATUAGUNG

Ikhwal terjadinya pulau mengare diyakini adalah sebuah ular jelmaan dari pangeran Solo melamar putri Melirang, ketika dalam perjalanan pangeran Solo dipesan oleh ibunya dilarang tidur dalam perjalanannya, akan tetapi dia tertidur dalam perjalanannya melamar putri melirang, dan ketika terbangun ia kebingunan dan terapungdi lautan luas dekat pulau Madura, pangeran Solo tidak akan kembali dengan tangan hampa, singkat cerita pangeran Solo menjelma menjadi ular besar dan membentuk daratan yang sangat luas, Ainun Najib ahli sejarah dalam babat pulau mengare juga menuturkan bahwa pulau mengare yang membentang luas ini adalah jelmaan dari pangeran Solo yang melamar putri Melirang. Dari rangkaian cerita ini terbentuklah pulau Mengare dan terbagi dalam tiga desa yaitu Watu Agung, Tajung Widoro dan Kramat.
Desa Watuagung adalah salah satu cerita dari jelmaan Pangeran Solo, Mascot (jimat) Watuagung berasal dari bahasa jawa watu berarti batu dan agung berarti besar artinya batu besar. Sekarang sisa-sisa peninggalan batunya masih ada tepatnya di belakang balai desa.
Ainun Najib menuturkan bahwa sebelum Islam datang tempat ini sering digunakan sebagai tempat pemujaan, karena dipercaya mempenyai kekuatan mistik yang luar biasa, batu agung semakin mendarah daging di lingkungan penduduk setempat dan masyarakat sekitar. Disebelah batu tersebut didirikan padepokan guna tempat pemujaan, dan ditempat itulah banyak berkumpul masyarakat, dan dengan berkumpulnya masyarakat disitu pulalah nama watuagung dijadikan dan disepakati menjadi nama desa. Padepokan tersebut dengan berkembangnya waktu sekarang menjadi balai desa Watuagung.
Ainun juga menuturkan bahwa Islam pertama kali masuk pulau Mengare melalui pelabuhan Jara Tagung Desa Watuagung, akan tetapi versi lain mengatakan Islam pertama kali masuk di daerah Leran, setelah masuknya Islam kepercayaan masyarakat pada batu agung semakin memudar dan berganti dengan kepercayaan agama Islam. Maka Batu Agung sekarang hanya tinggal sebuah cerita.
Pemerintahan desa Watuagung pertama kali dipegang oleh bapak Noor Hasan, , dia memerintah di jaman penjajahan Belanda, dijaman penjajahan Jepang Watuagung diperintah oleh Bapak Askor, Jaman Kemerdekaan diperintah oleh Bapak Aslikhin, Majid, Zainul Mu’allimin dan digantikan bapak Ali Hasan pada periode ini.
Dan sekarang Desa Watuagung masuk dalam pemerintahan kecamatan Bungah Kabupaten Gresik.






NARASUMBER
Nama         : Mbah Nardi
Umur          : ± 100 Tahun
Jabatan       : Sesepuh Desa


2. SEJARAH TERJADINYA DESA TAJUNGWIDORO

I. ASAL USUL WILAYAH MENGARE Mengare adalah sebuah wilayah yang terletak di wilayah kecamatan Bungah, daerah ini merupakan pulai kecil dan hamper seluruh wilayahnya merupakan lembah atau tanah “Ngarai”, mungkin dari kata ngarai inilah yang menyebabkan wilayah ini dinamakan “Mengare”.
Mengare terdiri dari tiga Desa yaitu : Watuagung, Kramat dan Tajungwidoro. Adapun letaknya di sebelah selatan yang dibatasi oleh wilayah kecamatan Manyar dan sebelah barat berbatasan dengan desa Bedanten dan di sebelah utara dan timur merupakan laut jawa yang merupakan perbatasan selat Madura.
Adapun asal usul kejadiannya merupakan legenda adalah berasal dari seekor ular raksasa yang menurut cerita ular ini berasal dari Solo Jawa Tengah yang jatuh cinta dan ingin melamar putri solo, tetapi sang ptri tidak mau dan lari entah kemana, sang ular terus mencari dengan menelusuri bengawan solo hingga sampai ke muaranyadi laut jawa, setelah berbulan – bulan sang putri tidak di ketemukan ular raksasa tersebut merasa kepayahan dan putus asa, akhirnya berhenti di muara itu dan melingkar bertapa sampai bertahun tahun hingga terendam dan menjadi daratan yang sekarang di kenal dengan sebutan Mengare.
II. ASAL USUL DESA TAJUNGWIDORO Tajungwidoro merupakan salah satu desa yang berada di Wilayah Mengare, nama Tajungwidoro atau Ujungdoro ini diambil dari petualangan salah seorang tokoh yang menurut cerita dalam babat tanah Mengare bernama Joko Mustopo, Joko Mustopo ini adalah tokoh sakti yang memiliki dua senjata Gongseng kencono dan Caluk Cerancam, kedua senjata ini mempunyai fungsi yang berbeda, tatapi keduanya saling mendukung peran bagi pemiliknya, karena Gongseng Kencono dapat digunakan untuk berjalan di atas air sedangkan Caluk Cerancam bisa membawa pemiliknya terbang.
Konon Caluk Cerancam ini merupakan pemberian dari seorang janda tua yang merupakan gurunya dan sekaligus merupakan ibu angkatnya. Adapun Gongseng Kencono ini berasal dari seekor binatang yaitu babi hutan atau celeng yang direbut oleh Joko Mustopo, karena Joko Mustopo sangat tertarik dengan kesaktian Celeng tersebut yang bisa berjalan di atas air.
Menurut cerita Joko Mustopo sedang berada di muara bengawan solo yang terletak di ujung timur utara wilayah Mengare, ketika iut sedang melihat ada seekor babi lautan yang sedang berjalan di atas air menuju ke arahnya menetang ingin mengajak berperang, Joko Mustopo hamper kewalahan menghadapinya, tetapi pada akhirnya kalung di leher celeng yang berupa Gongseng Kencono itu dapat di rebut dan Babi hutan berlari kea rah barat dan meniggal di pinggir sungai dan konon akhirnya menjadi sebuah batu yang berbentuk Celeng dan daerah ini sekarang dinamakan Watu Celeng.
Setelah ditinggal lari oleh Babi Hutan yang telah dikalahkan tadi, Joko Mustopo merasa lapar dan haus kemudian ia berjalan menelusuri pantai dan menemukan banyak tumbuhan “Doro” yaitu pohon yang tangkai dan rantingnya sedikit berduri tetapi buahnya manis, buah inilah yang dapat menolong Joko Mustopo dari rasa laparnya, kemudian dia berucap “Besok nek ono rejane jaman deso iki tak arani Ujungdoro” sekarang dikenal dengan nama “Tajungwidoro” yang menurut analisa berasal dari “Tanjung wit doro”.
Desa ini sekarang terdapat enam dusun yang masing – masing dusun memiliki sejarah dusun – dusun itu adalah Tanjungsari - sidorukun, dusun Pesisir barat – Dusun Sumber sari, dusun Salafiah dan dusun Sidofajar atau Pesanggraan.
Salah satu sejarah dusun yang unik adalah dusun Sumber Sari, dinamakan Sumber Sari karena di situ terdapat sebuah sumur yang airnya tidak pernah habis walaupun telah diambil oleh seluruh warga desa untuk air minum, konon sumur ini merupakan sumur buatan seorang wali yang diperlakukan tidak adil oleh salah seorang warga. Menurut cerita ada orang lewat dan merasa haus, dan di kampung tersebut ada warga yang memiliki pohon tebu,orang asing itu minta tetapi tidak diberi, malah tebu yang dimilikinya itu dikatakan bukan tebu tetapi pohon perumpung, lalu orang asing itu berucap “Mugo – mugo dadio perumpung temenan” (mudah – mudahan jadi perumpung sungguhan), maka benar pohon tebu itu jadi pohon perumpung. Kemudian orang asing itu dengan tangannya tanpa menggunakan bantuan alat apapun mengali tanah yang berbatu dan akhirnya keluar sumber mata air yang luar biasa jernihnya, sampai sekarang sumur yang kedalamannya hanya kurang lebih 75 cm itu dijadikan suber air minum warga Desa Tajungwidoro.





Narasumber :

Nama : H. Khafid
Umur : 56 Tahun
Jabatan : Tokoh Masyarakat

3. Sejarah Desa Sungonlegowo
Oleh : Hamim syaddadÃ’


1.Asal Usul
Asal nama Sungonlegowo semula berasal dari kata Kungonlegowo (pada sekitar masa perdikan Demak)  kemudian berubah menjadi Sungonlegowo (pada perdikan mataram / sekitar tahun 1600 M) atau tepatnya pada masa pemerintahan kadipaten sedayu berpindah dari Sedayu lama ke Sedayu baru.
Nama Kungonlegowo dipakai pada 3 demang yaitu : masa Demang Ridin, Demang Kason dan Demang Bunyamin, Kungonlegowo dimaksudkan adalah 2 kampung yaitu kampung kungon (posisinya disebelah barat masjid Ngaren dan keselatan sampai kampung langgar sedangkan kampung legowo (posisinya di ebelah timur masjid ungonlegowo), nama desa Sungonelgowo muncul pertama kali pada masa pemerintahan distrik Bungan  desa tercatat dengan nama Sungonlegowo, tepatnya pada masa demang ke IV yaitu Demang Taman (Atro Dikromo).
Legowo sendiri tidak ada keterangan yang jelas namun menurut Gus Mat [1] asal-usul nama desa Sungonlegowo yang lebih jelas dalam cerita pewayangan yaitu nama salah satu dari raja kediri yang merantau karena sang raja mengambil permaisuri lagi, salah satu putra bernama legowo yang merantau akhirnya sampi di sebuah desa Sungonlegowo yang berada di Gresik, dan putra raja kediri satunya mengembara sampai ke probolinggo.Tegas gus mat orang dulu mencatat informasi dalam bentuk catatan dan cerita pewayangan dan juga cerita turun temurun, maka cerita dapat menjadi sumber rujukan yang falid.
Desa sungonlegowo terdiri dari dusun sungonelgowo dan dusun Ngaren. Legowo berasal dari bahasa jawa yang dalam bahasa sangsekertanya berarti “tidak gampang menyerah”, sedangkan Ngaren berasal dari kata leren (pemberhentian) proyek penggalian sungai (bengawan solo) dari ngawi ke ujung pangkah.

2.Riwayat Pemerintahan dan capian pembangunan
Menurut H.Khayan [2] Pemerintah desa Sungonlegowo telah berjalan selama 4 Demang dan 8 Petinggi (Kepala Desa), pada catatan ini kami membedakan 2 pemerintahan  pertama, catatan pemerintahan bubak lahan dan kedua; pemerintahan pembangunan.
a.Masa Bubak lahan
Pengelompokan pemerintahan masa bubak dimaksudkan adalah tata penyelenggaraan pemerintahan pada tahap awal yang masih disibukkan pada pembukaan lahan, masa ini diisi oleh 3 demang yaitu:
1.Demang Ridin
2.Demang Kason
3.Demang Bunyamin
B.Masa Pembangunan
Cerita atau catatan pembangunan dimulai pada masa Demang Taman (Astro Dikromo) pada masa ini dimulai pembangunan masjid Sungonlegowo, yang melibatkan 7 Desa / dusun  antara  lain : Desa Abar-abir, Kemangi, Kisik (Indro), Karang jarak, Legowo, Ngaren,Bedanten. , catatan kedua ; adalah diadakannya perahu tambangan
Selanjutnya masa pemerintahan desa yaitu ada 8 kepala Desa ;
a.Masa pemerintahan Kepala desa lurah Miun
b.H.Abd.Rohman
c.H.Umar ( 30 Tahun)
pembangunan SD selatan yang masih nama SR.
d.Ahmad Mudlor
e.H.Syuhud (22 tahun)
Informasi pembangunan yang masuk pada masa pemerintahan kepala desa Syuhud sangat banyak, disamping karena pertanian tambak pada masa keemasan dengan hasil yang berlimpah, hasi lpembangunan antara lain :
a.Pembangunan jalan tembus legowo melewati Gunung Sari
b.SD utara (SD Impres)
c.Pemindahan gedung Yayasan Al Asyhar
d.Pembangunan kali besar dari kesek ke Bengawan Solo
e.Gerakan tahlil desa yang menghasilkan pembangunan pager kampung
f.Pembangunan Pendopo Kelurahan Barat
f.Mas’udi
pada masa ini pembangunan yang dihasilkan adalah : Pembangunan Gapuro

g.Ansor. SH
Pada masa pemerintahan kepala desa Ansor SH. Capaian pembangunan minimal antara lain :
a.Pembukaan jalan tembus (Arpas – Ke ultan Agung)
b.Pemafingan jalan Pelabuhan Ngaren, arpas
c.Pembangunan Gedung TK


h.Sayuti.SE
Pada masa kepala desa yang baru seiring dengan usiannya yang masih baru belum banyak catatan hasil-hasil pembangunan, yang sudah dilakukan antara lain :
a.Pemafingan jalan utama Sungonelgowo melalui gunungsari
b.Pembuatan program saluran air bersih dan pengajuan pada program PNPM-PPK.
 3.Penutup
Sebagai kalimat penutup catatan ini bukan sebuah catatan akhir yang penuh dengan kesempurnaan namun awal catatan yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan yang akan dilengkapi seiring banyaknya tanggapan dan masukan,



H.Ahmad, menetap di langgar Roudlotul Mutaallim, bagian selatan Desa Sungonlegowo.untuk falidasi bisa kontak di nomer 70880135.



Ã’ Hamim Syaddad dalam program PNPM-PPK adalah sebagai Fasilitar laki-laki, catatan ini dimaksdukan sebagai persyaratan mengikuti program pnpm-PPK pada putaran tahun kedua

[1] Nama lengkapnya H.Ahmad, menetap di langgar Roudlotul Mutaallim, bagian selatan Desa Sungonlegowo.untuk falidasi bisa kontak di nomer 70880135.

[2] H.Hayan, adalah pengurus ponpes Atthohiriyyah Desa Sungonlegowo


4. LEGENDA DESA SUKOWATI

     emua orang Sukowati yang berumur di atas lima puluh tahun pernah Mendengar cerita        
       dari leluhurnya, bahwa dulu sebelum ada desa Sukowati ada sebuah desa yang terletak di sebelah selatan desa Sukowati sekarang,  dan desa tersebut bernama Desa Mambung.
      Semakin lama Desa Mambung jumlah penduduknya semakin bertanbah, dengan bertanbahnya penduduk dan disertahi dengan kemajuan zaman maka Desa Mambung semakin lama semakin meluas ke Utara, dengan nama baru Desa Sukowati, dengan luas Wilayah 32 Ha.
Dari dahulu sampai sekarang mata pencaharian sehai-harinya Penduduk Desa adalah bertani dan berkebun.
Desa Mambung atau yang lebih dikenal dengan nama Desa Sukowati sebenarnya hanya perkembangan penduduk dari Desa Masangan dan Desa Bungah yang menginginkan Lahan Pertanian yang lebih luas dengan mengandalkan sumber Air Irigasi Sawah dari Sungai Bengawan Solo

T     A     M      A      T





Narasumber :
Muslich
48 Tahun
Tokoh Masyarakat


5.  GAMBARAN UMUM DESA SUKOREJO


A. 
 Sejarah Desa Sukorejo
                Dari beberapa desa atau pun daerah pasti mempunyai sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminanan dari karakter dan cirri khas dari suatu daerah sejarah desa atau daerah sering kali tentang dalam dongeng yang diwariskan secara turun temurun dari mulut kemulut sehinggah sulit utuk dibuktikan dan tidak jarang  dihubungkan denggan mitos di tempat –tempat tertentu yang dianggap keramat desa sukorejo memiliki latar belakang tertentu yang tertuang dalam kisah berikut.

B. Asal Usul(Legenda lemah  delik
Bermula dari keraton surokerto pada abat kurang lebih 14 –15 ada seorang  putra raja yang ingin melihat dan dan memenui putri ayu mengare. Agar tidak ketauan putra raja menyamar menjadi seekor ular dan dikawal oleh hujan ,sehingga jalan yang dilalui membentuk kali / sungai yang sekarang dinamakan sungai solo / bengawan solo
Dalam perjalanamnya  sang ular terlena oleh kecantikan putri melirang. Sehinga dia lupa akan tujuannya semula dan ular pun sampai dimuara sungai.
Karena malu sang ular pun tak mau kembali ke keraton akhirnya dan akhirnya bertapa di muara sungai tersebut
Setelah lama tidak kembali maka sang raja mengutus panglima mudanya yakni yang bernama pangeran ibnu sukarso untuk mencari keberadaan putrahnya yang menyamar menjadi seekor ular untuk menemui putri ayu mengare.
Setelah lama mencari dan tidak ketemu maka pangeran ibni sukarso sampai pada suatu tempat.dan bertemu dengan seorang guru yang munpuni ilmu dibidang agama dan pada akhirnya pangeran ibnu sukarso berguru pada orang tersebut . beliau adalah Maulana umar malik alakbar yang sekarang dikenal dengan Mbah ngabar dan beliau mempunyai beberapa murit diantaramurit beliau adalah pangeran ibnu sukarso ,kiai gede morobakung.kanjeng sepuh  sedayu dll
Setelah lama berguru pangeran ibnu sukarso memutuskan untuk tingal didaera tersebut dan beliau juga menjadi menantu maulana umar kholik al akbar mendapat putri satu -satunya itu yang bernama umi zulaiha.paeran ibnu sukarso dan umizulaiho mempunya 3 putra :  1.gunadi wirso
                2.wati wongso
                3.aminatus saada
  dan pada tahun 1516 sang guru sekaligu mertua dari pangeran ibnu sukarso meningal dunia dan padepokannya dilanjutkan oleh pangeran ibnu sukarso.padepokan tersebut bernama ngabar,nama ngabar sendiri diambil dari kata ngabar ngabar no (memberi tahu) dan akbar (besar) secara adminiteratif wilaya perdikan dan berbatas dengan wilaya indero delik dan bedanten.pada akhirnya paneran ibnu sukarso dan keluarganya memperluas wilayanya dengan jalan menyapu mengunakan sapulidi yang dahasa jawanya ngerek (nyapu)
kemudian daerah tersebut bernama kerek. Pada waktu pemerintan hindu budah dibentuklah pemerintaan desa yang bernamadesa lemah delik dalam desa lemah delik ada dua wilaya yaitu palemaan dan kerek.

C. Asal usul nama desa sukorejo
                Desa sukorejo terletak disebelah timur ibu kota kecamatan bungah dan sebelah utara utara aliran sungai solo atao bengawan solo dengan iklim  curah hujan dengan jalan lima bulan musim hujan.desa sukorejo terletak diketinggian 3 meter dengan laras bentang wilayahnya darat nama desasikorejo mempuyai arti suko (seneng ) rejo (rame)makna dari sukorejo adalah seneng dengan keramaian atau dengan kemajuan yang dahulunya delek dan keterbelakangan sesuai dengan nama desa yang lama yaitu lemah delik pada masa pemerintaan kepala desa bapak H.Munir desa lemah delik diganti menjadi desa sukorejo karena desa lemah delik ada dua wilayah yaitu kerek dan palemaan yang mempunyai dua faham yang berbeda sehingga sering terjadi perselisisan yang tak kunjung selesai  maka pemerintan desa menyatukandua wilaya tersebut kerek dan paleman menjadi menjadi satu wilyah yang sering terkenal dengan nama desa sukorejo dan perudahan desa sukorejo direstui oleh KH.soleh mustofa selaku sesepuh dan kiayi diwilayah bungah .

C.  Legenda Nama Desa Sukorejo

                Dalam beberapa tahun yang lalu sampai saat ini desa sukorejo sudah mengalami pergantian kepala desa sabanyak delapan  kali yakni sebagai berikut

1.             Periode kepemimpinan Nor Salem            …...   - 1915
2.             Periode kepemimpinan Durakit                                1926  - 1934
3.             Periode kepemimpinan Sugio                   1935  - 1940
4.             Periode kepemimpinan Karto  Kardi                        1941  - 1954
5.             Periode kepemimpinan H.Munir                              1955  - 1954
6.             Periode kepemimpinan Khusnan                              1964  - 1989
7.             Periode kepemimpinan H. Hasan Basori   1990 -  2007
8.             Periode kepemimpinan Drs.Suatmo                          2007

E. Sejarah Pembangunan Desa Sukorejo
                Pembangunan didesa sukorejo dapat di catat dalam beberapa era kepemimpinan yang masing - masing memiliki hal – hal yang  menonjol diantaranya:

1.             Masa kepemimpinan Karto Kardi
?            Pelestarian  kesenian tradisonal

1.             Masa  kepemimpinan H. Munir
?            Memberantas kemaksiatan
?            Pembukaan jalan tembus dari dusun kerek ke dusun palemaan di                                                                                                 tengah – tengah desa bedaten.
?            Perombakan masjid dari kayu menjadi tembok.
c.   Masa kepemimpinan Khusnan
?        Pembangunan Balai Desa, Swadaya dan Pemerintah
?        Pindahnya SDN sukorejo yang bertempat di bungah di ganti ke Desa     Sukorejo
?      Mempererat Kesatuan masyarakat

1.             Masa kepemimpinan H. Hasan Baseri
?            Pembukaan jalan poros dasa bungah ke bedaten (pemerintah daerah)
?            Pafingisasi seluruh desa sukorejo (swadaya dan pemerintah )
?            Pertanian /irigasi (swadaya dan pemerintah daerah)
?            Perehapan balai desa (swadaya )
?            Pengecoran jalan poros desa menuju ngabar (suadaya)

1.             Masa kepemimpinan Drs. suatmo
?            Pengadaan air bersih (swadaya dan pemerintah )
?            Pafingisasi Jl pangkuon indah (pemerintah dan suadaya )






NARASUMBER
Nama      : Farhan
Umur       : 30 Tahun
Jabatan    : Tokoh Pemuda / Perangkat Desa



 6. 
DESA SIDOREJO


Dahulu desa Sidorejo bernama Wantilan. Penduduknya banyak bertempat tinggal di pesisir Bengawan Solo. Sebagian dari penduduknya adalah warga keturunan Cina. Wantilan termasuk salah satu daerah yang dituju oleh Kiai Qomaruddin (pendiri PP. Qomaruddin) untuk dijadikan sebuah pesantren, tetapi tidak mendapat izin dari sosok makhluk halus yang menyerupai buaya putih. Konon kalau Mbah Qomaruddin (panggilan Kiai Qomaruddin) mendirikan pesantren di wilayahnya, maka satu per satu santrinya akan dijadikan korban oleh buaya putih. Akhirnya beliau mengurungkan niatnya dan mendirikan pesantrennya di Sampurnan Bungah.
Karena wilayah Wantilan berada di pesisir Bengawan Solo, sementara perkembangan pembangunan pemerintah daerah ditempatkan pada wilayah utara desa Wantilan maka satu demi satu warga yang bertempat tinggal di pesisir Bengawan Solo  pindah ke bagian utara yang kondisi tanahnya lebih tinggi. Sampai pada akhirnya, banyak sekali warga Wantilan yang membuat rumah di utara yang tanahnya merupakan wilayah desa Masangan dan desa Melirang.
Desa Wantilan penduduknya yang masih tetap tinggal di pesisir Bengawan Solo akhirnya dapat dihitung dengan jari. Berbagai alasan penduduk sangat kuat untuk pindah ke dataran yang lebih tinggi karena menghindari banjir yang datang setiap tahun. Karena sudah banyak yang pindah, akhirnya dibuatlah nama di pemukiman yang baru itu dengan nama Sidorejo. Kata 
Sidorejo diambil dari bahasa Jawa. Sido berarti jadi dan Rejo berarti ramai. Sesuai dengan namanya, Sidorejo menjadi ramai dan banyak warga baru yang yang di luar desa Wantilan berbondong-bondong untuk bertempat tinggal di desa Sidorejo.
Desa Wantilan berganti nama desa Sidorejo. Seperti yang diharapkan pembuat nama tersebut, ramailah desa kecil tersebut yang sampai saat ini penduduknya tidak kurang dari 300 kepala keluarga yang tersebar di dua pedukuhan yakni Sidorejo Barat dan Sidorejo Barat (
Wringinuwok).
Batas Desa Sidorejo sebelah barat  dan utara wilayahnya berbatasan dengan desa Melirang dan sebelah timur berbatasan dengan desa Masangan, sementara sebelah selatan berbatasan dengan Bengawan Solo. Sampai saat ini produk yang diunggulkan oleh desa Sidorejo adalah 
gamping ( bahan baku kapur untuk bangunan ).

 
Sejarah singkat ini diambil dari seorang narasumber yang bernama CHOTIB umur 64 tahun yang tinggal di Sidorejo RT. 03 RW. 01 Bungah Gresik 61152.


7. SEJARAH DESA SIDOMUKTI

Setiap desa atau daerah pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan dari karakter dan cirri khas dari suatu daerah. Sejarah desa atau daerah seringkali tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun-temurun dari mulut-kemulut sehingga sulit untuk dibuktikan dan tidak jarang dihubungkan dengan tempat-tempat tertentu yang dianggap Kramat.
Sehubungan tidak adanya sesepuh desa, maka sejarah desa sidomukti tidak dapat kita paparkan dengan luas, hanya sekilas yang dapat diketahui.
Sejak terbentuknya desa sidomukti merupakan daerah yang dipimpin oleh kepala desa. Desa sidomukti terdiri dari 5 dusun yaitu :

1.             Dusun Pucang.
2.             Dusun Mulyosari, dusun ini dulu namanya dusun Gepeng.
3.             Dusun Pakuwon.
4.             Dusun Prubungan.
5.             Dusun Kiring.
6.             Dusun Tegal Sari. Untuk mengurangi kepadatan penduduk, banyak warga yang mendirikan rumah tegalan sehingga dinamakan Tegal Sari.
Tiap dusun dipimpin oleh seorang kepala dusun. Sebagai penghormatan terhadap layanan mereka terhadap masyarakat, desa menyediakan beberapa petak sawah( tanah bengkok) yang diberikan kepada mereka untuk diambil manfaatnya selama menjabat. Kepala dusun (bahu) juga dibantu oleh wakil kepala dusun (bayan), mereka juga memperoleh tanah bengkok.
Dari masa berdiri sampai sekarang, desa sidomukti mengalami beberapa pergantian kepala desa. Adapun nama-nama yang dapat kami tulis, yaitu :

1.             Karngun.
2.             Ahmad Zaini, 1995.
3.             Rif’an Zaini, 1995-2000.
4.             Ahmad Efendy, 2000- sekarang.
Adapun pembangunan yang dilaksanakan di desa sidomukti merupakan swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah.





Narasumber Sejarah :

Nama               :
Umur                : 80 Tahun
Jabatan             : Sekretaris Desa


8. GAMBARAN UMUM DESA SIDOKUMPUL BUNGAH GRESIK

1. Sejarah Desa Sidokumpul Bungah Gresik

Setiap Dea atau daerah pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan dari karakter dan ciri khas dari suatu daerah sejarah desa atau daerah sering kali tertuang dalam dongeng – dongeng yang diwariskan secara turun temurun dari mulut kemulut sehingga sulit untuk dibuktikan dan tidak jarang dihubungkan dengan mitos tempat – tempat tertentu yang dianggap keramat. Desa Sidokumpul Bungah Gresik memiliki latar belakang tersebut yang tertuang dalam kisah – kisah berikut ini :

Pak Pantes (Ngatmin) sebelumnya jumlah Desa ynag sebelah utara berjumlah 25 rumah dan yang sebelah timur sejumlah 20 rumah kemudian dianjurkan oleh undera dijadikan 1 dengan nama Sidokumpul asalnya Mindi dan Dondong tahun 1967 mulai jadi. H. Musthofa mulai menjabad sebagai kepala Desa Tahun 1935 sampai tahun 1989 setelah itu di PJS H. Ridwan selama 6 Bulan Tahun 1990 M. Umar mulai Tahun 1990 – 2007 kemudian di PJSkan ke M.Umar Tahun 2007 Syaiful Arif diangkat masyarakat menjadi Kepala Desa.

Desa Sidokumpul Bungah Gresik, sebenarnya dulu pada zaman penjajahan kerajaan Sunan Giri kedaton terdiri dari 2 desa :
1 (satu) Desa Dondong dan 2 (dua) Desa Mindi dengan 2 Kepala Desa. Sampai pada penjajahan belanda, tepatnga pada Bulan Agustus Tahun 1940 berubah menjadi Desa Sidokumpul Bungah Gresik, menurut sejarah yang memberi nama desa “ Dondong dan Mindi” adalah tokoh masyarakat bernama “ H. Abdullah Said ” (Mabah Celoreng) beliau adalah utusan Sultan Giri Kedaton ( Raden Ainul Yaqin), dinamakan Desa Dondong karena sudah banyak Rumah dan dimungkinkan besok suatu saat akan banyak Gedung – gedung.

Sedangkan Desa Mindi itu masih jarang sekali rumah dan banyak yang mempunyai keahlian Misalnya : Tabib, dengan bukti “ Sangkal Putung “, Dukun Beranak, Ahli Obat DLL.

Pada suatu saat H. Abdullah Said , membuat surau di desa Dondong di RT 01, beliau seorang tokoh agama Islam dan pandai Besi  ahli Kanuragan (Ilmu Kesaktian). Oleh karena itu beliau disebut orang pintar/ Cikal bakal pendiri desa Sidokumpul. Beliau hidup bersama istrinya bernama “ Nyai Siti Saimah ”  kemudian istrinya meninggal dan dimakamkan di Desa Sidokumpul, sedangkan Raden H. Abdullah Said meninggal dan meminta dimakamkan di timur Jalan Raya (Abar – Abir) atau sering disebut dengan Mbah Celoreng sampai sekarang dikeramatkan sehingga didatangi banyak peziarah yang tentunya memiliki tujuan dan maksud tersendiri.






II. Asal Usul (Legenda) Desa
Dari berbagai sumber terpenting dapat ditelusuri dan di gali asal usul desa Sidokumpul Bungah Gresik yang cukup bervariatif tetapi dapat ditarik benang merah yang dapat dipercaya sebagai asal muasal terjadinya Desa Sidokumpul Bungah Gresik yang dapat diceritakan dari legenda – legenda yang berasal dari Desa Sidokumpul Bungah Gresik serta legenda tentang “MBAH CELORENG ” beliau adalah Utusan Sultan Giri Kedaton (RADEN AINUL YAQIN0 yang sampai sekarang makamnya yang terletak di dusun Abar – abir dikeramtkan sehingga didatangi banyak penziarah yang tentunya memiiki tujuan dan maksud tersendiri.

Setelah kami mencari cerita – cerita tentang legenda Hama Desa Dondong dan Mindi akhinya kami menemukan cerita dari orang – orang desa bahwa Desa Dondong dan Mindi itu (membutuhkan penafsiran jauh ke depan) diantara sumber – sumber yang kami dapat di desa antara lain :

1.             Bahwa di desa dondong besok banyak rumah – rumah gedung / rumah mewah
2.             Nama Desa Dondong menurut bahasa jawa singkatan dari “ DONGE GEDONG ” yang artinya pada suatu saat di Desa Dondong itu akan di huni oleh masyarakat yang beraneka ragam dari beberapa kalangan.

Asal usul di desa Mindi ceritanya ada Thabib yang Mandi sehingga ada orang yang mengatakan “MINDI MANDI” yang artinya orang Mindi ilmunya Mandi (Mujarab)
Dengan suatu bukti cerita dulu ada orang mindi yang menemukan Cupu ynag ada minyaknya, pada suatu saat ada orang gelakar / menbajak sawah yang lahan perkebunan. Kelakarnya (bahasa jawa) singkal mesinya ternyata patah tidak bisa dibuat untuk mengoles sawah perkebunanmya kemudia singkal mesinnya dioles oleh minyak yang ada dalam cupu tersebut. Akhirnya “ Cupu”itu dimanfaatkan oleh anak cucunya dengan turun temurun untuk dapat mengobati orang yang sakit “ Patah Tulang “ ternyata orang yang pateh Tulang itu diberi Allah Kesembuhan akhirnya terkenla dengan sebutan “SANGKAL PUTUNG “.

III. Sejarah pemerintahan Desa sidokumpul Bungah Gresik

Sehak tebentuknya atau berdirinya desa Sidokumpul bungah Gresik pada tahun 1940 yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa pada posisi sekarang sudah pada generasi Kepala desa yang ke Tujuh.

1.             Kepala Desa Bapak Rukun
2.             Kepala Desa Bapak Pantes
3.             Kepala Desa Bapak Pantes
4.             Kepala Desa Bapak Pantes
5.             Kepala Desa Bapak H. Mustofa pada tahun 1935 – 1988
6.             Kepala Desa Bapak Umar Lazim pada tahun dua priode 1988 – 2006
7.             Kepala Desa Bapak  Moh. Syaiful Arif  31 Maret – Sekarang




IV. Sejarah pembangunan Desa Sidokumpul
Pembangunan di desa Sidokumpul dapat kami catat pembangunan dalam beberapa era kepemimpinan Kepala Desa yang masing – masing memiliki hal – hal yang menonjol dan tertulis dalam dokumen Desa Sidokumpul Bungah Gresik, diantarnya :

Masa Kepemimpinan Bapak Moh. Umar Lazim (1988 – 2006)

1.             Pembagunan Bali Desa
2.             pemavingan Jalan
3.             Sumur Bor
4.             Perluasan Makam
5.             Pembelian Untuk tanah kas Desa
6.             Pendirian RAM NU 150
7.             Bantuan langsung tunai

Masa Kepemimpinan Bapak Syaiful Arif  (2007 – Sekarang)

1.             Renovasi bangunan bali Desa
2.             pemavingan Jalan
3.             penambahan sarana Sumur Bor
4.             Pengentasan / kesejahteraan masyarakat miskin (GARDU TASKIN)
5.             Pavingisasi jalan menuju poros Desa Sidokumpul JPD
6.             Dana SPP Kelompok Desa PKK
7.             Pembangunan GEDUNG PAUD – PNPM PPK
8.             Dana SPP Desa Sidokumpul – PNPM PPK





Nama      : H.M JAIS, SH
Umur       : 55 Tahun
Jabatan    : Tokoh Masyarakat - BPD


9. SEJARAH DESA RACI WETAN

Desa raci Wetan sebelum masa pemerintahan 
Demang Danipa berada di Raci Delanyar sedangkan di Raci Wetan sendiri dulunya dikenal dengan nama Desa Ngablak. Sehingga pada saat itu Demang Danipa adalah salah seorang yang bertempat tinggal di Desa Ngablak, ketika beliau diangkat menjadi Demang maka yang dulunya bernama Ngablak menjadi Raci Wetan. Karena disebabkan Demang yang dulunya bertempat tinggal di Desa Ngablak dan akhirnya menjadi desa Raci Wetan.
Pada masa pemerintahan Bupati Raden Badrun pada tahun 1910 M. belanda mulai melancarkan strategi barunya. Lalu raden badrun dipindahkan ke Jombang, kemudian sidayupun dirubah kedudukannya menjadi satuan wilayah yang lebih rendah yaitu kawedanan. Belanda juga menempatkan lurah (Demang) hanya untuk loyalitas dirinya. Adanya dukungan belanda sebagai satuan wilayah yang kecil dengan Raja kecil-kecilnya pula. Kata raci merupakan kemerdekaan raja-raja kecil dan pada masa itu bermunculan nama-nama raci dan salah satunya adalah Raci Wetan. Menurut cerita tokoh desa Raci Wetan, konon desa tersebut dipimpin oleh salah seorang raja kecil yang bernama 
Sumitro Joyo Negoro. Kepemimpinan raja-raja kecil ditingkat desa/kelurahan tersebut. Secara berurutan raja-raja kecil tersebut :

1.             Sumitro joyo negoro
2.             Demang Lengket
3.             Demang Sindu Putih
4.             R. Masharyo Kusumo Cipto Wiryo
Dengan munculnya beberapa nama Raci :
-         Sebelah selatan anak kali solo bagian wetan (timur), diberi nama Raci Wetan  dan merupakan bagian wilayah bungah.
-         Di sebelah utara anak kali solo bagian tengah diberi nama Desa Raci Tengah dan merupakan wilayah bagian Sidayu.
-         Di sebelah utara anaka kali solo bagian kulon (barat), di beri nama Desa Raci Kulon dan merupakan dari wilayah Sidayu.
Suatu ketika ada seorang yang bernama 
Kanjeng Sepuh yang sedang lewat disebelah utara anak kali solo, beliau mengatakan bahwa daerah yang dilewati tersebut merupakan daerah/wilayah Sidayu.
Kemudian dimasa pemerintahan Kanjeng Sepuh selama (39 th). Selalu menentang dengan orang-orang belanda, sehingga belanda merasa takut dan tidak berani menekan rakyat terutama daerah sidayu. Setelah itu beliau meninggal pada tahun 1856 M.
Masyarakat desa Raci Wetan kala itu merasakan dalam hidupnya kurang aman dan merasa terganngu oleh para perampok dan lainnya. Dan pada saat itu hidupnya berpencar dan berpindah-pindah, pada suatu ketika ada seorang yang berani menempati desa tersebut dan merasa aman dan tidak merasa terganggu lagi oleh para perampok dan lainnya, akhirnya semua warga yang dulunya berpencar-pencar dan berpindah-pindah menjadi kumpul kembali di Desa Raci Wetan.

Sumber Data :
Bpk. H. Munawar Bin Madarib Bin H. Thohir ( Kaur Kesra )

Serta dilengkapi oleh Moh. Alfan Bin Ahmad Aly ( Ustadz )



10. SEJARAH SINGKAT DESA PEGUNDAN


            Sejak zaman dahulu hingga tahun 1900 telah terbentuk kelompok masyarakat di suatu tempat terpencil yang jauh dari keramaian yaitu terletak disebelah utara desa pegundan yang sekarang menjadi tambak (Ganjaran Desa). Kelompok tersebut terdiri dari orang-orang yang mempunyai kesamaan dalam hal pekerjaan sehari-hari yaitu ternak sapi dan kerbau. M,ereka datang dari b eberapa desa tetangga diantaranya desa ngablak (Raci Wetan), dusun Grogol, Kemangi dan Abar Abir. Kehidupan masyarakat pada saat itu masih bebas, tidak ada aturan adat atau aturan desa yangn bersifat mengikat dan belum terbentuk pemerintahan desa.
                Karena letak daerahnya tergolong dataran rendah, tidak heran jika sering terjadi banjir sehingga banyak yang berkeinginan untuk berpindah tempat kedataran yang lebih tinggi. Sehingga pada tahun 1937, salah seorang yang dihormati pada saat itu, 
Pak Tasrib beserta tokoh masyarakat lainnya mengambil gagasan mengajak orang-orang untuk berpindah ketempat yang sekarang ini menjadi desa Pegundan.
                Pegundan sebenarnya bukan nama asli yang diberikan oleh orang-orang terdahulu. Nama asal yang diberikan mereka pada saat itu adalah 
KEBONDANG (Kebo Kandang) yaang berarti tempat pemeliharaan kerbau. Namun karena kesalahan penulisan oleh pihak pemerintah pada saat itu sewaktu mendaftar nama-nama desa yang berada di kecamatan Bungah, dan masyarakat belum menmgerti arti pentingnya sebuah nama dalam sejarah, maka hal tersebut tetap dibiarkan dan berlaku hingga sekarang.
                Terbentuknya pemerintahan desa diawali sejak perpindahan tempat dan yang di percaya untuk memimpin desa pada saat itu adalah 
Pak Tasrib. Beliau mengawali tugasnya pada tahun 1937 dan berakhir pada tahun 1945. diakhir tugas pak Tasrib, sering tejadi persioalan di desa diantaranya,. Sering terjadfi penjarahan, mengamuknya tentara penjajah hingga membuat tiga warga desa tertembak. Sehingga pak Tasrib tidak sanggup lagi memimpin desa dan mengajak masyarakat untuk merncari pimpinan baru. Maka terpilihlah Pak Karyo sebagai kepala desa pegundan pada tahun 1945.
                Masa kepemimpinan pak karyo tidak berlangsung lama, yaitu hanya lima tahun. Beliau meninggal sebelum masa jabatannya, yaitu tahun 1950 danm telah di ganti untuk sementara oleh 
Pak Faqih meneruskan masa jabatan selama tiga tahun. Setelah masa jabatan Pak  Faqih berakhir, pada tahun 1953 diadakan pemilihan kepala desa baru, dimana pada saat itu yang terpilih adalah Pak Sa’il. Beliau bertugas selama tujuh tahun sembilan bulan dan meninggal pada tahun 1960 sebelum habis masa jabatannya. Selama tiga bulan berlangsung, yang menjabat sebagai kepala desa sementara adalah Pak Samir.Kemudian pada tahun 1960 diadakan pemilihan kepala desa, dimana pada saat itu muncul beberapa calon diantaranya; Paka H. Amir, Pak H. Ridlo’i, Pak Abdul Mu’in. ketiganya merupakan orang-orang yang terpandang pada saat itu dan masing-masing merupakan calon yang sama-sama kuat. Namun karena faktor kerluarga yang sangat banyak, maka yang terpilih sebagai kepala desa pegundan yaitu Pak Abdul Mu’in.
                Pak Abdul Mu’in menjabat sebagai kepala desa selama tiga puluh tahun yaitu dari tahun 1960 hingga tahun 1990. Jasa-jasa beliau ketika menjabat sebagai kepala desa adalah; terbangunnya madrasah Ibtidaiyah Al-Falahiyah, SDN, dan waduk.
                Kemudian pada tahun 1990 hingga tahun 1998 yang menjabat sebagai kepala desa adalah 
Pak Nurul Yaqin.  Sejak pemerintahan dipegang Pak Nurul Yaqin, terjadi perubahan yang cukup pesat baik dari segi pola pikir masyarakat maupun gaya hidup mereka. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya; adanya listrik masuk desa (LMD), pengusaha cina masuk desa (PCMD), munculnya beberapa warung kopi disekitar desa, dll. Jasa-jasa beliau selama menjabat sebagai kepala desa antara lain; pembangunan saluran limbah, bantuan IDT, bantuan ala-alat petani miskin, dan lat-alat nelayan miskin.
                Pada tahun 1998 hingga sekarang yang menjabat sebagai kepala desa pegundan adalah bapak
Muhammad Idham. Beliau menjabat dua kali periode, dan jasa-jas beliau selama menjabat sebagai kepala desa diantaranya; pembangunan jalan Pavingan kuang lebih satu kilo meter, pengurukan makam, pembangunan jalur irigasa kurang lebih dua ratus lima puluh meter, bedah rumah, wakil Kabupaten untuk Lombah P2WKSS dan sekarang sedang membangun Gapura Desa yang di perkirakan mengahabiskan biayah kurang lebih seratus lima puluh juta rupiah.

Di susun KPMD Desa Pegundan
Sumber sejarah : Sesepuh Desa :
1. Bapak H. Abu Amar
2. Bapak H. Amir ( 127 th )
3. Bapak Ahyar
4. Bapak Ilyas
5. Arsip Desa





Narasumber :
Nama         : H. Abu Amar
Umur          : 72 tahun
Jabatan       : Tokoh Agama



11. SEJARAH DESA MOJOPUROWETAN

          Ada beberapa versi tentang sejarah desa Mojopurowetan. Disisni kami tidak membicarakan benar tidaknya versi tersebut. Justru perbedaan pendapat tersebut akan menambah khasanah cerita tentang desa di tepian Sungai Bengawan Solo ini.

          Ada yang menyebut nama Mojopuro diambil dari nama Kyai Mojowulung seorang ulama penyebar agama Islam di desa Mojopurowetan dan sekitarnya. Ada juga yang menyebut nama Mojopuro berasal dari kata “Muja  Pura”. Bahkan konon sebelum nama Mojopuro popular di masyarakat sebelumnya bernama desa Maspunten (emas berlian). Semua jika hubung-hubungkan dengan peninggalan-peninggalan yang ada di desa Mojopurowetan saai ini memang ada kaitannya.

          Alkisah sebelum masuknya islam di Pulau Jawa, Mojopurowetan adalah daerah komunitas Agama Hindu. Bukti sejarah terdapatnya dua arca Dwarapala (konon terbesar di Indonesia) terdapai di desa ini. Satu sudah hancur dan satu lagi masih utuh dan “diambil” tim purbakala dan saat ini ditempatkan di musium Trowulan, Mojokerto.

          Menurut keterangan tim purbakala Trowulan, Mojokerto, Untuk mengurangi pengaruh Islam yang berpusat di kerajaan Demak, Mojopuro yang merupakan salah satu pintu gerbang wilayah utara kerajaan Majapahit yang berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan kerajaan Demak, sengaja dibuat suatu komunitas Hindu. Disitu dibangun sebuah pura  yang dijaga oleh dua buah arca dwarapala ukuran besar. Karena sebagai tempat pemujaan itulah masyarakat menyebutnya “Muja Pure”. Atau muja puro, yang akhirnya menjadi Mojopuro yang artinya memuja pura.

          Karena sebagai tempat komunitas agama Hindu, banyak peninggalan-peninggalan yang ada kaitannya dengan kesenian atau kebudayaan Hindu. Konon ada satu tempat (kampung) yang juga berdekatan dengan ditemukannya arca dwarapala bernaka kampung Gali Gambang. Menurut cerita sesepuh setempat, dulu banyak warga masyarakat yang secara tidak sengaja membuat pondasi rumah tiba-tiba menemukan seperangat gamelan (gambang) yang terbuat dari emas. Karena seringnya menemukan gambang emas itulah banyak warga yang melakukan penggalian-penggalian dengan harapan menemukan emas atau perhiasan lainnya. Akhirnya kampung tersebut dinamai kampung gali Gambang. Dan mana desa Mojopuro saat itu bernama Mas-Punten atau mas permata. Entah sejak kapan berubah nama menjadi Mojopuro. Tahun berapa pastinya tidak ada yang berani memastikan.
          Versi lain menceritakan Bahwa Nama Mojopuro diambil dari nama depan Ki Ageng Mojowulung atau kyai Mojowulung, penyebar agama Islam di desa Mojopurowetan dan sekitarnya. Menurut cerita Bapak Mahmudi, yang saat ini menjabat sekretaris desa Mojopurowetan, saat itu kyai Mojowulung bersama kakak perempuannya bernama Nyi Ageng lanjar Kuning atau Nyi Lanjar Kuning  datang di desa ke dukuh Maspunten (Mojopuro) untuk menyebarkan agama Islam. Dengan kesabaran dan kegigihan beliau akhirnya agama Islam berkembang dengan pesat. Untuk menghormati jasa beliau akhirnya nama dukuh Maspunten diganti dengan nama Dukuh Mojopuro.

          Dikenal Dengan Nama Mbah Ngabar.

          Sejak mendirikan sebuah padepokan sebagai pusat komunitas dan belajar agama Islam, lanjut Bapak mahmudi, yang menurut pengakuannya mendapat cerita dari orang tuanya yang kebetulan juga dulu menjabat pamong desa,   nama Kyai Mojo Wulung semakin terkenal. Dari ajaran dan wejangan yang diberikan beliau, banyak masyarakat yang simpatik dan tertarik mempelajari dan memeluk agama Islam. Dari kegigihan Beliau mensi’arkan agama Islam, akhirnya banyak masyarakat memberikan julukan Mbah Ngabar, yang asal mula dari kata kabar atau si’ar Sampai saat ini  nama Mbah Ngabar melekat dihati masyarakat.

          Beliau akhirnya meninggal dan dimakamkan  di desa Mojopurowetan  Nama Mbah Ngabar selalu melekat di hati masyarakat, bahkan setiap tanggal 1 Muharom  warga desa yang 100 % warganya beragama Islam ini selalu mengadakan peringatan wafatnya beliau yang biasa disebut khoul Mbah Ngabar.

GAMBARAN UMUM DESA MOJOPUROWETAN

          Desa Mojopurowetan secara geeografi terletak disebelah utara Kabupaten Gresik. Dengan jarak tempuh kurang lebih 25 km dari kota Gesik. Didukug infrastruktur yang sangat memadai, Desa Mojopurowetan gampang mengakses derap ekonomi kota Gresik.

          Luas wilayah desa Mojopurowetan 196,624 ha dan terletak ditengah-tengah lintasan kecamatan Bungah dan kecamatan Dukun. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Melirang dan sebelah Barat berbatasan dengan desa Mojopurogede. Sedang bagian Selatan Berbatasab dengan Kabupaten Lamongan yang dibelah Sungai Bengawan Solo sedang bagian Utara  berbatasan dengan wilayah kecamatan Dukun.

          Penduduk Mojopurowetan berjumlah 2.863 jiwa atau 471 KK  dan  bermatapencaharian terbagi dibeberapa sector seperti  petani tambak dan petani kebun, pedagang, buruh tani, buruh pabrik, peternak ayam potong dan sebagian berprofesi sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri dan wiraswasta. Tidak ada yang dominan dalam angka matapencahariannya. Hingga tidak bisa disebutkan sebagian besar, tapi rata-rata.

          Tahun 2005 desa Mojopurowetan masuk dalam klasifikasi desa merah. Sebab dari 471 KK, 352 KK masuk dalam katagori prasejahterah.  





NARASUMBER :
Nama   : H. M. Chulalan Abd. Halim
Umur    : 55 Tahun
Jabatan : Kepala Desa



12. PROFIL DAN SEJARAH DESA MELIRANG


               
mengizinkan DESA MELIRANG MERUPAKAN DESA YANG BERADA DI SEBELAH BARAT KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK. SEBAGIAN BESAR ATAU SEKITAR 70% WILAYAH DESA MELIRANG BERADA DI DAERAH PERBUKITAN YANG TANDUS, DAN HANYA 30% YANG BERADA DILEMBAH YANG SUBUR. DI DAERAH PERBUKITAN UMUMNYA DIGUNAKAN SEBAGAI LAHAN PERTANIAN PERLADANGAN YANG SIFAT PENANAMANNYA HANYA TERGANTUNG PADA MUSIM PENGHUJAN. DAN DIWILAYAH LEMBAH DIGUNAKAN SEBAGAI LAHAN PERTANIAN PADI DAN PERIKANAN.

                DESA MELIRANG BERBATASAN, SEBELAH UTARA DENGAN DESA RACI WETAN, SEBELAH BARAT DENGAN DESA MOJOPURO WETAN, SEBELAH SELATAN DENGAN SUNGAI BENGAWAN SOLO, DAN SEBELAH TIMUR BERBATASAN DENGAN DESA MASANGAN DAN DESA SIDOREJO. PADA UMUMNYA PENDUDUK DESA MELIRANG BERKERJA DI SEEKTOR WIRASWASTA DAN SEBAGAI BURU PABRIK HANYA SEDIKIT YANG BERKERJA DISEKTOR FORMAL.
                DESA MELIRANG TERBAGI MENJADI 9 PEDUKUAN ATAU DUSUN YANG TERPISAHKAN ANTARA DUSUN SATU DENGAN YANG LAINYA BERUPA LAHAN PERKEBUNAN DAN LAHAN TIDUR. YAKNI DUSUN MELIRANG WETAN, DUSUN MELIRANG KULON, DUSUN GALALO, DUSUN KALIMALANG, DUSUN PERENG KULON, DUSUN PERENG WETAN, DUSUN NONGKO DAN DUSUN SIDODADI. SEBENARNYA ADA SATU DUSUN LAGI YANG MENGALAMI BEDOL DUSUN YANG MYARAKATNYA PINDAH KE DAERAH LAIN YAKNI DUSUN PENGKOL. DAN DUSUN INI TINGGAL BEBERAPA RUMAH YANG TIDAK BERPENGHUNI SEHINGGA SEKARANG DUSUN TERSEBUT DIHAPUSKAN.

                ASAL - MUASAL NAMA DESA MELIRANG ADALAH MENURUT LEGENDA DAN CERITA RAKYAT YANG BERKEMBANG DI MASYARAKAT DESA MELIRANG. BERMULA PADA SAAT TANAH JAWA DIKUASAI OLEH KERAJAAN KEDIRI YANG PADA WAKTU ITU ADA SEORANG PUTRI DARI KEDIRI KARENA MELAKUKAN SUATU KESALAHAN SEHINGGA DI BUANG DIDAERAH SEKITAR DESA MELIRANG. PUTRI ITU DIASINGKAN DENGAN BEBERAPA ABDI DARI KERAJAAN KEDIRI KEMUDIAN PUTRI TERDEBUT MENDIRIKAN SEBUAH RUMAH YANG BESAR DIBUKIT KEDATON PUTRID ITU BERNAMA PUTRI PUTUT KEDATON ATAU ADA YANG MENYEBUTNYA PUTRI CANDI KEDATON, DAN JUGA PUTRI TERSEBUT MENDIRIKAN SEBUAH CANDI DIATAS SEBUAH BUKIT, 200 METER DIBELAKAN BALAI DESA, DESA MELIRANG SEKARANG. PENINGGALAN PUTRI YANG LAINYA YAKNI BERUPA TELAGA YANG DI NAMAI TELOGO BUNGSUNG DAN SEBUAH SENDANG ATAU TENPAT PEMANDIAN UMUN YANG BERADA DIDESA MELIRANG WETAN YANG DINAMAI SENDANG PANCURAN.

                PADA SAAT SAAT ITU PUTRI SEDANG MELAKUKAN AKTIFITASNYA SEHARI-HARI DI TANAH PENGASINGAN TERSEBUT. IA SEDANG MENYULAM SEBUAN BAJU DAN ALAT SULAMNYA TERJATUH KEDALAM TELAGA BUNGSUNG, TERUS IA MEMBUAT SAYEMBARA BARANG SIAPA YANG DAPAT MENEMUKAN ALAT SULAMNYA MAKA IA AKAN MENJDI SUAMINYA KALAU LAKI-LAKI DAN AKAN MENJADI SAUDARANYA JIKA IA SEORANG PEREMPUAN. ALANGKAH TERKEJUTNYA PUTRI PUTUT KEDATON MERLIHAT YANG MENEMUKANYA ADALAH SEEKOR ANJING HITAM BERJENIS KELAMIN JANTAN. ANJING TERSEBUT ADALAH JELMAAN MANUSIA YANG DIKUTUK OLEH DEWA KARENA MELAKUKAN PERBUATAN YANG TIDAK TERPUJIH DAN KEBETULAN ANJING TERSEBUT MENDENGAR UCAPAN PUTRI CANDI BANG, KARENA SUDAH BERJANJI MAKA PUTRI MENIKAHI ANJING TERSEBUT. ANJING TERSEBUT BERNAMA ASU BLANGYOYANG. DARI HASIL PERKAWINANNYA PUTRI DIKARUHNIAI SEORANG ANAK LAKI-LAKI YANG TAMPAN YANG DIBERI NAMA PANGERAN BUTOSENO.

                PADA SUATU HARI PANGERAN BUTOSENO TELAH GENAB BERUSIA 12 TAHUN, PADA WAKTU ITU IBUNYA INGIN SEKALI MEMASAK HATI SEEKOR RUSA SEHINGGA MENYURU PANGERAN BOTO SENO UNTUK BERBURU RUSA, BRANGKATLAH PANGERAN BOTO SENO KEDALAM HUTAN DITEMANI OLEH ANJING BLANGYOYANG SEHARIAN MENCARI RUSA NAMUN IA TIDAK MENDAPATKANNYA SEHINGGA IA KESAL KEMUDIAN IA MEMBUNUH ASU BALNGYOYANG DAN MENGAMBIL HATINYA KARENA IA TAKUT PADA IBUNYA TIDAK DAPAT HATI RUSA. PANGERAN BOTOSENO TIDAK TAHU KALAU ANJING YANG DIBUNUHNYA ITU ADALAH AYAHNYA SENDIRI SEDANGKAN JASAD ANJING TERSEBUT DIMAKAMKAN DISEBUAH GUNDUKAN TANAH YANG AGAK TINGGI OLEH MASYARAKAT SEKARANG DINAMAKAN GUNUNG KOLO MONGSO.  KEMUDIAN IA PULANG DENGAN MEMBAWAH HATI ANJING TERSEBUT DAN DIBERIKAN KEPADA IBUNYA. IBUNYA  LANGSUNG MEMASAK HATI SUAMINYA YANG DISANGKA PUTRID ADALAH HATI RUSA. PADA SAAT MAKAN HATI RUSA IBUNYA BERTANYA KEPADA BUTOSENO DIMANA ANJING BLANGYOYANG, BOTOSENO MENGAKU KALAU HATI YANG DIMAKAN IBUNYA ITU ADALAH HATI ANJING YANG DIBUNUHNYA. DENGAN MARAH IBUNYA LANGSUNG MEMUKUL KEPALAH ANAKNYA DENGAN SEBUAH SEWUR ATAU GAYUNG AIR YANG TERBUAT DARI BATOK KELAPA SEHINGGA KEPALA BUTOSENO TERLUKA IBUNYA MENGUTUK BUTOSENO DAN MENJELASKAN BAHWA YANG DIBUNUH BUTOSENO ITU AYAHNYA, BUTOSENO DIUSIR DARI KEDATON IA BERLARI KEARAH SELATAN PADA DEPAN SEBUAH PINTU GOA IA BERHENTI, KARENA LAPAR IA MERLIHAT SEEKOR AYAM HUTAN MASUK KEDALAM SEBUAH GOA YANG SEKARANG DINAMAI OLEH MASYARAKAT ADALAH GOA BUSONO. YAKNI SEKARANG BERADA DI DUSUN MELIRANG KULON. PANGERAN BUTOSENO BERLARI MENGEJAR AYAM TERSEBUT MASUK KEDALAM GOA BUSONO SAMPAI DIDALAMNYA IA TERSESAT MASUK LORONG YANG PANJANG MENGARAH KEARAH SELATAN. IA BEJALAN TERUS MENYUSURI LORONG GOA SAMPAI PADA UJUNGNYA IA KELUAR DARI GOA BUSONO SAMPAI GOA KARANGBOLONG YANG BERADA DI DIPANTAI SELATAN YOGJAKARTA.

                PANGERAN BUTOSENO SETIBAHNYA DIPANTAI SELATAN IA BERTEMU DENGAN SEORANG GADIS CANTIK MENGENAKAN PAKAIAN HIJAU DAN BERMAHKOTAKAN INTAN KEBIRUAN IA MENGAKU BERNAMA PUTRID TUNJUNG BIRU ATAU MASYARAKAT DISANA MENYEBUTNYA NYI LOROKIDUL. OLEH PUTRI TUNJUNG BIRU BUTOSENO DIRAWAT DAN DIAJARI KESAKTIAN YANG LUARBIASA SAMPAI IA GENAB BERUMUR 25 TAHUN. SETELAH 13 TAHUN MENINGGALKAN IBUNYA IA SUDAH TIDAK LAGI INGAT SIAPA DIRINYA DAN IBUNYA, KEMUDIA IA DISURU OLEH NYAI LOROKIDUL KEMBALI MASUK KEDALAM GOA ASAL DIA PERTAMAKALI DATING KE PANTAI SELATAN PULAU JAWA. SESAMPAINYA IA KELUAR DARI GOA BUSONO IA BERJALAN KE DALAM HUTAN TIBA-TIBA IA MELIHAT SEORANG WANITA CANTIK YANG SEDAN MANDI DI SEBUAN SENDANG YAKNI SENDANG PANCURAN, IA LANGSUNG MENARUH HATI PADA WANITA TERSEBUT SETELAH MANDI WANITA ITU BERJALAN MENUJUH SEBUAH RUMAH YANG BESAR DAN DIKELILINGI RUMAH-RUMAH KECIL DISEKITARNYA LALU IA MENGGODA WANITA TERSEBUT DAN MENGUTARAHKAN ISI HATINYA BAHWA IA MENYUKAI WANITA ITU. WANITA ITU TIADA LAIN ADALAH PUTRI CANDI BANG IBUNYA SENDIRI. WANITA ITU JUGA MENYUKAI LAKI-LAKI TERSEBUT. KARENA PUTRI PUTUT KEDATON ITU MEMPUNYAI KESAKTIAN UNTUK AWETMUDA SEHINGGA IA TIDAK TERKESAN TUA. PADA SAAT MELAMAR PUTRI KEPALA PANGERAN BUTOSENO DIUSAB OLEH PUTRI PUTUT KEDATON IA MELIHAT BEKAS LUKA PADA KEPALA PANGERAN PUTRI TERINGAT ANAKNYA YANG 13 TAHUN LALU DIPUKULNYA SEHINGGA TERLUKA, IA MERASA BAHWA LAKI-LAKI TERSEBUT ADALAH ANAKNYA SEHINGGA IA MENOLAK LAMARAN PANGERAN BUTO SENO. SEHARI KEMUDIA PUTRI MASUK KEDALAM CANDI DAN BERTANYA KEPADA DEWA APAKAN YANG MELAMAR IA ADALAH ANAKNYA YANG 13 TAHUN LALU MENGHILANG. PUTRI MENDAPAT PETUNJUK DARI DEWA BAHWA PANGERAN YANG MELAMARNYA ADALAH ANAKNYA, DAN DEWA TERSEBUT MEMBERI PETUNJUK UNTUK PUTRI KAWIN DENGAN PANGERAN NAMUN DENGAN SYARAT PANGERAN BUTOSENO HARUS MELINGKARI SEBUAH BUKIT DENGAN TUBUHNYA, KEMUDIAN PUTRI MENEMUI PANGERAN DAN MENYAMPAIKAN PETUNJUK DARI DEWA MENGENAI SYARAT UNTUK MENGAWINI PUTRI. PANGERAN BUTOSENO MENYANGGUPI SYARAT TERSEBUT DENGAN KESAKTIANYA YANG DIPEROLEH SAAT BERGURU DI PANTAI SELATAN IA MERUBAH TUBUHNYA MENJADI SEEKOR NAGA, DENGAN MEMBELIKAN TUBUNYA NAGA TERSEBUT MELINGKARI BUKIT KEDATON NAMUN TIDAK CUKUP LALU SANG NAGA MENJULURKAN LIDAHNYA DENGAN TUJUAN DAPAT MENYENTU EKORNYA JADI IA BIAS DIANGGAP BERHASIL MELINGKARI BUKIT KEDATON TERSEBUT. MENGETAHUI HAL ITU PUTRI MERASA KALAU IBU DAN ANAK TIDAK BOLEH MENIKAH PUTRI BERGEGAS MENGAMBIL SEBUAH PEDANG DAN MEMOTONG LIDAH NADA TERSEBUT DENGAN SEKEJAB NAGA ITU BERUBAH KEMBALI MENJADI PANGERAN BUTOSENO LALU IA BERTANYA  KEPADA PUTRI BAHWA USAHANYA YANG HAMPIR BERHASIL UNTUK MELINGKARI BUKIT TERSEBUT NAMUN DIGAGALKAN OLEH PUTRI. PUTRI MENJAWAB DAN MENCERITAHKAN BAHWA IA IBUNYA JADI TIDAK BOLEH KAWIN DENGAN ANAKNYA. DENGAN MARAH PANGERAN BOTO SENO SEKUAT TENAGA MENENDANG SEBUAH TEMPAT AIR ATAU GENTONG TETAPI TIDAK KENA MELAINKAN TENDANGGAN BOTOSENO MENGENAI TANAH PADA KAKI BUKIT KEDATON SEHINGGA TERLEMPAR KESELATAN YANG SEKARANG MENJADI SEBUAH BUKIT DI SLEMAN YOGJAKARTA YAITU BUKIT GUNUNG KIDUL. DI TENGAH-TENGAH BUKIT TERSEBUT KELUAR GUMPALAN KUNING YANG MENGELUARKAN GAS PANAS. YAITU BERUPA TAMBANG BELERANG LALU PANGERAN BUTO SENO TERBANG KEARAH BARAT DAN TIDAK KEMBALI LAGI.
                BELERANG YANG KELUAR DARI DALAM BUKIT TERSEBUT DIMANFAATKAN OLEH PARA PENDUDUK DAN PENDUDUK ITU SENDIRI ADALAH PARA ABDI YANG MENGAWAL PUTRI SAAT DIUSIR DARI KERAJAAN KEDIRI DAN BERKELUARGA BERANAK-PINAK DI PERKAMPUNGAN DAN PERKAMPUNGAN TERSEBUT BERNAMA MELIRANG. KATA-KATA MELIRANG BERASAL DARI KATA 
WELIRANG ATAU BELERANG YANG KELAMA-LAMAHAN BERUBAH BUNYI MENJADI MELIRANG.






Narasumber :
Nama         : Akhwan
Umur          : 52 Tahun
Alamat       : Melirang Wetan RT. 02 RW. I No. 17
Jabatan       : Tokoh Masyarakat
 
  


13. DESA MASANGAN

            Awal mula terbentuknya Desa Masangan. Di mulai ketika pertengahan abad 16 M. Ketika itu wilayah yang didiami oleh masyarakat desa Masangan saat ini sekitar tahun 1517 merupakan pusat industri. Pusat industri dari berbagai macam prodduksi yang beralokasi di  tegal PANDEAN. Sementara lokasi perdagangan ada di PASARDINAN. Tapi belum tahu nama yang ditempati. Dalam keadaan yang sangat ramai perdagangan industri tersebut, semakin hari semakin berkurang jumlah para pedagang dan industrial lenyap tanpa jejak dan berita. Yang menjadikan risau sang penguasa yang pada saat itu pusat perdagangan dipimpin oleh wanita muda yang menjadi AKUWU (kepala desaa).
            Situasi dan kondisi yang desas desus tentang berkurang dan hilangnya masyarakat, menjadikan Akuwu bertanya dan berfikir “ ada apa di balik gerangan itu” maka diadakannya musyawarah untuk membahas situasi yang berkembang. Maka dibentuk berbagai seksi untuk menyelidiki dan menganggulangi masalah yang sedang berkembang. Dari berbgai pantauan para telik sendi (mata-mata) dicapai keterangan bahwa peenyebab ulah yaitu seorang raksasa dari jenis jin yang bernama BUTO IJO, yang setiap harinya memangsa beberapa orang penduduk dimalam hari. akhirnya sang akuwu mengambil kesimpulan bahwa untuk mendapat jawaban dari semua ini harus melakukan topobroto atau bersemedi selama 33 hari 33 malam.
Dan waktu bersemedi menghasilkan sebuah wisik bahwa Buto Ijo harus dimusnahkan dengan cara dijebak didalam sebuah pasangan yang terdiri dari sebuah GROGOL dan JALA RANTAI serta sebuah pedang raksasa yang bernama JOKO MANTRU. Dan semua itu hanya bisa didapat dengan topo broto yang dilakukan didalam sebuah pesanggahan, dan tidak boleh diganggu selama 77 hari, akhirnya pusaka-pusaka tersebut bisa didapatkan pada malam Jum’at kliwon pada malam bulan Syuro tahun Saka.
Dan semua itu harus menggunakan umpan berupa sepasang anak remaja bule lelaki dan wanita dan harus diberi pengharuman dan penyedap untuk menarik sang Buto. Tak khayal ketika terbangun Buto Ijo yang lapar berusaha untuk mencari mangsa kembali. Tujuh langkah berangkat  sanng buyo mencium bau enak dari yang begitu menggugah selera.
Dalam hal ini sang Buto ada keinginan untuk makan. Langkah demi langkah telah dilakukan yang akhirnya membawa ke suatu tempat yang ada didalamnya sepasang bule lelaki dan perempuan yang begitu menarik perhatiannya, dalam posisi mengintai dibalik kelihaiannya Sang Akuwu memerintah hulu balangnya untuk menyiapkan pasangan yang dihasilkan dari tapa brata, perintah Akuwu jala rantai harus dikembangkan kearah grogol, tempat sang umpan disiapkan.
Akhirnya Buto Ijo masuk dalam perangkat jala rantainya, dengan menghentak Buto Ijo sangat marah sampai aungannya bisa didengar sampai kejauhan, Buto Ijo yang memiliki kesaktian mandra guna menggunakan ajian kekrek wojo untuk merobek jala rantai bagian atas, yang akhirnya sang Akuwu dalam keadaan panik, dalam kepanikannya menginginkan agar masalah ini bisa dipecahkan dari gusti kang reksa jagad.
Dengan perintahnya sang Akuwu, para prajurit tangan kanannya untuk memenggal kepala sang Buto Ijo yang telah merobek jala rantai tersebut sehingga mencuat dari jala rantainya. Secepat kilat pedang Joko Mantru disabetkan kearah leher sang Buto dan terlempar jauh ke bengawan Solo, badannya melayang kesebelah barat tepatnya di desa Mojopuro Wetaan dan pedangnya tertancap di sebuah bukit kemudian menjadi batu yang saat ini dinamakan Pereng Medang, semua hulu bertepuk sorak atas keberhasilan yang mereka capai dan mereka mengadakan pesta 7 hari atas keberhasilannya, diaadakan penobatan dan pergantian nama sang Akkuwu menjadi Nyai Buyut Arum Masangan dan sekaligus tanah kekuasaannya dinamakan tanah Masangan. Dalam menandai wilayahnya sang Akuwu membuat pembakaran, sedang abu yang bertebangan dari pembakaran tersebut dijadikan sebagai tanda dari wilayah Buyut Arum Masangan. Maka sejak saat itu desa itu dinamakan desa Masangan.





NARASUMBER :
Nama       : Ainur Rofiq
Umur        : 46  Tahun
Jabatan    : Kepala Desa


14. SEJARAH DESA KISIK

Kurang lebih 400 tahun yang lalu, ada sekelompok masyarakat yang bermukim di lereng gunung pentung di situ terdapat pantai pesisir laut Jawa. Karena tempat tersebuta banyak hutan pohon jarak sehingga masyarakat yang berdiam di tempat ini memberi nama 
Karang Jarak dan lama kelamaan pantai tersebut mengalami pendangkalan yang disebabkan endapan lumpur Bengawan Solo sehingga terbentuklah sebuah daratan yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan oleh penduduk Desa baik sebagai lahan pertanian maupun tempat pengembanganpemukiman. Karena endapan lumpur ini merupakan campuran dari endapan lumpur pantai dan endapan lumpur bengawan solo maka tanah di situ dinamakan tanah Gisik  asal dari kata Gasik(Jawa). Dan dengan pengembangan pemukiman penduduk tanah gisiktersebut dijadikanoleh masyarakat sebagai tempat pemukiman baru yang di beri nama Kisik, kemudian digabungkan menjadi DESA KISIK KARANG JARAK.
Menurut cerita leluhur Desa Kisik Karang Jarak, ketika disebelah utara Desa masih jadi pantai, ada musafir yang singgah di wilayah Desa Karang Jarak beliau adalah Waliyulloh Mbah Sayyid Iskandar Idris dan Mbah Sayyid Abdulloh. Beliau datang ke wilayah ini melalui lautan. Menurut cerita, awalnya beliau datang ke wilayah ini bertempat di dataran tinggi sekitar 500 m dari Desa Karang Jarak, dengan tujuan menyebarkan agama Islam. Dalam perkembangannya di tempat ini beliau mendirikan langgar (Mushollah) untuk pengembangan agama, hal ini terbukti dengan peninggalan beliau yang berupa pohon Randu yang oleh masyarakat dinamakan Randu Langgar karena pohon tersebut bersebelahan dengan langgar dan sampai sekarang pohon tersebut masih ada.
Kemudian tidak diketahui sebabnya kedua musafir ini pindah ke tempat yang lebih dekat dengan Desa Kisik Karang Jarak kira-kira 75 m dari Desa Kisik Karang Jarak, kemudian di tempat ini beliau mendirikan tempat ibadah semacam Musholla untuk mengembangkan agama dan pada masa pengembangan ini beliau berhasil mempunyai banyak santri hal ini terbukti banyaknya makam islam yang diyakini sebagai makam santri. Makam-makam tersebut berada di sekitar makam Mbah Sayyid Iskandar Idris dan Mbah Sayyid Abdulloh.
Menurut cerita, Mbah Sayyid Iskandar ini berasal dari daerah Derajat Paciran Lamongan, adapun Mbah Sayyid Abdulloh berasal dari Madura beliau adalah menantu dari Mbah Sayyid Iskandar Idris. Dan dalam masa ini beliau berencana mendirikan sebuah masjid. Namun adanya suatu hal yang tidak sesuai dengan harapan beliau maka rencana tersebut tidak bisa dilaksanakan. Hal ini terbukti dengan adanya bahan bangunan masjid yang berupa batu merah yang masih utuh dan sampai sekarang masih ada.
Dan pada masa beliau ada sebuah kejadian yang menarik, hal ini diutarakan oleh Mbah Bakir dari Rengel Tuban. Beliau ini termasuk anak cucu dari Mbah Sayyid Iskandar Idris. Beliau menceritakan bahwa pada waktu Mbah Sayyid Iskandar Idris menulis sebuah kitab kemudian tinta beliau tumpah karena keistimewaan karomah beliau, tinta tersebut berubah menjadi sendang yang mengeluarkan air bersih yang sangat jernih dan deras mata airnya karena keistimewaan tinta tersebut, air yang ada di sendang ini warnanya jernih kebiru-biruan. Sendang tersebut dikenal oleh masyarakat Kisik Karang Jarak dengan sebutan Telaga Biru dan sampai saat ini keberadaan sendang tersebut masih ada yaitu disebelah timur pemukiman penduduk.
Konon pada suatu waktu ada penduduk Desa Kisik yang menunaikan ibadah Haji ketika dia mau berangkat haji, beliau mengambil air sendang tersebut setelah sampai di Makkatul Mukarromah air yang asalnya jernih kebiruan berubah menjadi biru seperti tinta. Pada awalnya sumber mata air tersebut sangat deras sekali sehingga mampu dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar baik untuk mandi, irigasi, pertanian dan lain-lain. Tapi karena kurangnya perawatan dan termakan oleh usia sendang tersebut mengalami pedangkalan sehingga sumber mata air tersebut sangat berkurang sekali dan tidak dapat dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan lain-lain.





NARASUMBER :

Nama       : H. Muhammad Kholil
Umur        :  70 Tahun
Jabatan     : Tokoh Agama



15. SEJARAH DESA KEMANGI

Desa Kemangi merupakan desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian nelayan kerang, hal itu tidak dapat dipungkiri walaupun sekarang letaknya jauh dari laut, tetapi fakta membuktikan pada zaman dahulu desa Kemangi berada dekat dengan laut, tepatnya desa kemangi dahulu terletak di pesisir laut.
Nama Kemangi diambil dari kata 
KEMANGEN yang dalam bahasa sangsekerta berarti Pangkalan/ Pesisir.Yang karena letaknya dekat dengan laut dan berada di pesisir pantai maka dalam penyebaran agama Islam Desa Kemangi merupakan desa dengan penyebaran agama Islam yang tertua diwilayah Kecamatan Bungah, bahkan masjid yang dibangun merupakan masjid tertua di Bungah setelah Masjid Jami’ Kyai Gede Bungah. Pengembangan agama Islam juga pernah dilakukan oleh keturunan mBah Qomaruddin, tepatnya cucunya yang sekarang dimakamkan di pemakaman Islam Desa Kemangi. Menurut sejarah desa orang yang pertama kali mebuat nama desa Kemangi adalah mBah Sungeb yang merupakan orang asli Bawean. Di Desa Kemangi juga terdapat telaga air minum yang bernama telaga kembar kemangi yang konon masih ada hubungannya dengan Mbah Krono dan Mbah Itoh yang masih keturunan Sunan Bonang Tuban. sekarang makamnya berada di Desa Pegundan.
Inilah sejarah singkat Desa Kemangi yang dapat penulis telusuri. Semua kebenaran dari sejarah ini penulis serahkan pada kebesaran sang Khaliq, dan semoga penulis dimaafkan jika sejarah ini ada kekeliruan atau ada yang melenceng dari kebenaran.





NARASUMBER :
Nama         : SUPENAN
Umur          : 63 Tahun
Jabatan       : Sekretaris Desa






16. SEJARAH DESA GUMENG

asal mulanya lahan yang berupa alas gambut yang amat lebat kemudian alas tersebut dibersihkan oleh musyafir yang berkelana melalui pesisir Tuban sampai pesisir ujung pangkah dan Randuboto, kemudian orang tersebut juga mencari pekerjaan dan kemudian orang tersebut mendapatkan pekerjaan. Setelah beliau mendapatkan pekerjaan beliau beristirahat dibawah pohon randu dan disebelahnya ada bata, makatersebutlah daerah tersebut menjadi desa Randuboto
kemudian orang tersebut berkelana lagi sambil membawabekal air minum putihyang ditaruh ditempat yang berasal dari bamboo yang dinamakan GUMBENG dan selanjutnya orang tersebut masih ada keturunan wali sunan Bonang dan beliau punya ilmu kebathinan yang sangat tinggi sehingga lambat laun orang tersebut membersihkan alas tersebut sedikity demi sedikit menjadi bersih dan berubah menjadi desa yang dinamakan DESAGUMENG. Gumeng adalah nama yang diambil dari tempat air putih yang berasal dari bamboo yang dinamakan Gumbeng. Itulah terjadinya asal mula 
Desa Gumeng




Nara Sumber Sejarah

Nama               : Bapak Harun
Umur                : 80 Tahun
Jabatan             : Tokoh Masyarakat
Alamat             : Dusun Gumeng





 
DESA BUNGAH

Pada zaman Sunan Giri ada seorang saudagar dari Bugis yang ikut menimba ilmu dari beliau di Giri Kedaton Gresik. Pada saat itu kapalnya berlabuh di wilayah Sedayu Lawas Tuban, saat menjalankan rutinitas beliau sebagai saudagar dan santri selalu menjajaki wilayah yang bisa dia jadikan tempat berlabuhnya kapal beliau. Pada saat itu ia bertemu dengan seorang yang bernama “ QOMAR “ yang dikemudian hari terkenal dengan sebutan K. Qomaruddin di Desa Pringgoboyo. Pada saat itu K. Qomari dibangunkan sebuah pesantren oleh ( Alim ) sebutan saudagar tersebut pada saat itu di Desa Pringgoboyo.
Setelah membesarkan pondok tersebut Alim kemudian meneruskan laju kapalnya hingga sampai di wilayah yang saat ini di sebut Desa Ngampel ( yang berarti pinjam tempat untuk bersandar ) dan menetap beberapa saat di sana, akan tetapi beliau terus mencari tempat yang cocok untuk mengembangkan usahanya hingga beliau sampai di wilayah seberang utara yang memang pada saat itu termasuk lahan yang subur, oleh karena itu kemudian beliau mengembangkan usahanya dengan menanamkan pohon kelapa dan berbagai macam bungah-bungah, hingga wilayah tersebut kemudian penuh dengan tanaman-tanaman tersebut, hingga akhirnya wilayah tersebut disebut “ DESA BUNGAH “



17. LEGENDA DESA BEDANTEN

     Hampir semua orang Bedanten yang berumur di atas lima puluh tahun pernah Mendengar cerita        
       dari leluhurnya, bahwa dulu sebelum ada desa Bedanten ada sebuah kampung yang terletak di atas bukit, lebih tepatnya di sebelah utara desa sekarang  dan kampung tersebut bernama Danten Karso.
      Disana hidup seorang tokoh  yang memiliki lima anak laki-laki dengan kehidupan sehai-harinya bertani dan berkebun.
      Hingga pada suatu hari sang tokoh tersebut merasa perlu memberikan wejangan ( nasehat ) terhadap kelima anak laki-lakinya, agar perjalanan nasib hidup mereka dikemudian hari lebih baik dari kehidupan dirinya sekarang.
       Maka pada suatu hari dipanggilnya kelima anak laki-laki tersebut lalu diberi nasehat diantaranya berbunyi “Hai anak- anakku, dengarkan nasehat orang tuamu ini, bagi siapa saja  yang senang menjalani hidup dengan membuka ladang perkebunan,maka naiklah  kebukit, yaitu berjalan keutara hingga menuju hutan. Sedang bagi siapa saja yang senang menjalani hidup dengan cara bertani tambak, bertani sawah, dan nelayan, maka berjalanlah  menuruni bukit hingga sampai ke pesisir pantai yang letaknya di sebelah selatan kampung ini.”
      Maka setelah kelima anak laki-laki tersebut merenungkan apa yang diucapkan bapaknya. Terjadilah perpisahan  dengan diawali perginya saudara tertua yang bernama 
Wagiman.
     Saudara yang bernama Wagiman ini memilih menaiki bukit, sedang keempat saudara lainnya yang bernama : 
Wagito, warijan, warsito, dan Sanut, menuruni bukit hingga sampai dipesisir pantai.
     Dipesisir itulah para anak muda ini menetap hingga bertahun-tahun, hidup dan mempertahankan diri dengan  menanam padi di sawah, bertambak,  juga ada yang mencari ikan kelaut bebas.
     Mereka  membuat perobahan besar terhadap  tepi lautanan, disulapnya  menjadi perkampungan dengan pola hidup beraneka ragam, yang akhirnya  bertahan hingga terbentuk suatu pemukiman baru.
      Semakin lama semakin banyak orang yang datang  mengikuti jejaknya, hingga beberapa tahun berikut tempat ini yang semula lautan  berkembang menjadi desa.
Dengan sebutan nama dari istilah Bedah artinya berubah, Seganten artinya Lautan.
Maka desa baru tersebut diberi nama dengan  Desa BEDANTEN yang artinya bedah seganten ( lautan yang berubah ).

T     A     M      A      T





18. SEJARAH DESA ABAR-ABIR

1. Sejarah Desa Abar-abir
Setiap desa atau daerah pasti memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan cerminan dari karakterdan cirri khas dari suatu daerah sejarah desa atau daerah. Sejarah desa atau daerah seringkali tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun-temurun dari mulut kemulut sehingga sulit dibuktikan dan tidak jarang dihubungkan dengan mithos tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat. Desa abar-abir memiliki latar belakang tersebut yang tertuang dalam kisah-kisah berikut ini.

2. Asal-Usul (legenda) Desa Abar-abir
Dari berbagai sumber terpercaya dapat ditelusuri dan digali asal-usul desa abar-abir yang cukup variatif, akan tetapi dapat ditarik kesimpulan yang dapat diceritakan dari legenda-legenda desa abar-abir yang mempunyai dua makam sejarah yang setiap tahun dikunjungi oleh para peziarah yang tentunya memiliki maksud dan tujuan tersendiri yaitu makam mBah Sentono yang letaknya diujung timur (agak selatan) muka desa mBah celoreng diujung utara muka desa.

3. Legenda Nama Abar-abir
Legenda penamaan desa abar-abir tidak lepas dari sejarah nenek moyang. Konon abar-abir berasal dari nama Obar-abir yang artinya mengabarkan berita, bahwa mBah Celoreng menemukan sebuah daratan yang berdekatan dengan gunung mentung (sekarang terkenaldengan gunung penthung dimana disitu terdapat makam Raden Sakti yang masih keturunan Sunan Giri.
Ada juga yang mengatakan dari kata Obrak-abrik yang artinya merusak/mencari sesuatu dimana tempat tersebut masih berbentuk belantara ditumbuhi pohon-pohon besar dipuja-puja, sehingga dengan adanya Islam masuk daerah tersebut dibongkar paksalah dengan mengobrak-abrik apapun yang menjadi sesembahan orang-orang tersebut.
Disamping itu ada yang mengatakan nam tersebut berasal dari bahasa Arab yang artinya Abar-abir adalah Abirru-birri, yang mempunyai makna bagusnya bagus dan sejarah terus turun temurun dan sampai sekarang masih menghormati dua makam bersejarah yang masih dianggap keramat dan setiap tahun tetap diperingati. Yaitu pada hari kamis pon pada bulan jumadil akhir atau pada habis panen, karena desa abar-abir umumnya petani, akan tetapi sekarang sudah bergesr jadi pekerja pabrik, karena tempat-tempat bercocok tanam sudah beralih fungsi menjadi pabrik-pabrik.
Pada acara peringatan haul desa yang masih berlanjut sampai sekarang adalah tradisi membuat lepet (makanan dari jamur kelapa) pada acara tersebut sanak-saudara yang jauh saling berdatangan, disamping silaturrahim ada juga yang ingin menyaksikan tradisi pencak silat dimana pendekar-pendekar silat saling beradu jurus. Seminggu setelah haul desa (nyadran) masih ada acara yang tak kalah menarik yaitu haul mBah Sentono, dimana semua penduduk berdatangan membawa tumpeng (nasi kerucut) sambil berdo’a dan memohon kepada Allah SWT. Agar diberkahi segala hajat. Terkadang pula disitu ada acara membaca sholawat bersama-sama (hadrah).




NARASUMBER :
Nama               : Sulaiman, S.Pd
Umur                : 36 Tahun
Jabatan             : Tokoh Masyarakat
  Demikian gambaran singkat Desa Abar-abir



SEMOGA BERMANFAAT SALAM SEMUANYA UDA DATANG KESINI


SARAN DAN KRITIK MONGGO 085231274172

7 komentar:

  1. Saudaraku, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. (1) Tolong lebih dipahami tentang istilah "Sejarah" dan "Legenda". Keduanya adalah hal yang berbeda. (2). Sebaiknya tidak dari satu orang Narasumber untuk menghidari adanya muatan kepentingan, pemutarbalikan sejarah dan lain sebagainya. (3). Tentang desa Sidokumpul, kiranya perlu banyak revisi, harap dibaca ulang dan sebelum tulisan dipublikasikan perlu cross-check dengan kenyataan yang ada.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  2. Dalam Sejarah Pemerintahan Desa Sidokumpul, anda tidak menyebutkan Bapak Pantes sebegai Kepala Desa mana, Dondong atau Mindi. Bapak Pantes anda sebut tiga kali menjabat Kepala Desa, juga tanpa menyebutkan desa mana, Dondong atau Mindi. Waktu zaman dahulu, tidak ada periodisasi Kepala Desa dan Kepala Desa menjabat seumur hidup atau sampai mengundurkan diri. Buktinya, Bapak H. Mustofa (Rahimahullah) selama 50 tahun menjabat (zaman Belanda, zaman jepang, zaman Ore Lama, dan zaman Orde Baru) hanya dalam satu periode dan beliau berhenti karena mengundurkan diri mengingat usia yang sudah lanjut.

    BalasHapus
  3. Dalam sejarah pembangunan desa, anda hanya menyebutkan pada periode dua kepala desa terakhir, padahal narasumber anda juga mengalami saat pemerintahan desa dipimpin oleh Bapak H. Mustofa (Rahimahullah), bahkan pernah menjabat sebagai salah seorang perangkat desa di zaman kepemimpinan Bapak H. Mustofa (Rahimahullah).

    BalasHapus
  4. Tahun perubahan nama dari Dondong dan Mindi menjadi Sidokumpul membingungkan, tahun 1967 (sejarah desa pada paragraf pertama) atau tahun 1940 (sejarah desa pada paragraf 4) ?.
    Tentang nama Dondong dan Mindi, dua-duanya berasal dari nama buah yaitu buah Kedondong dan buah Mindi. Tanaman kedondong saat itu banyak tumbuh di desa Dondong dan Pohon Mindi banyak tumbuh di desa Mindi. Jadi jangan diartikan aneh-aneh tentang nama asal Dondong dan Mindi.

    BalasHapus
  5. Penemuan Cupu Ular (minyak sangkal putung) oleh seorang warga Mindi terjadi setelah desa Mindi sudah ada, jadi bukan karena itu desa tersebut dinamai sebagai desa Mindi.

    Tentang "Nyai Siti Saimah" Rahimahallah, yang menurut tulisan anda dimakamkan di desa Sidokumpul, apakah anda atau narasumber anda mampu menunjukkan buktinya?, dimana makamnya?. Sebagai "orang mulia", tentunya makam beliau dihormati dan diziarahi oleh warga Sidokumpul, paling tidak setahun sekali, sebagaimana juga dilakukan kepada "Mbah Celoreng" Rahimahullah yang senantiasa diziarahi oleh warga Sidokumpul meskipun makamnya di desa Abar Abir.

    BalasHapus
  6. Atas dasar hal-hal tersebut, sekali lagi saya sampaikan perlu dilakukan revisi terhadap tulisan anda tentang Sejarah Desa Sidokumpul. Agar mendekati kepada kebenaran sejarah, jangan hanya menggali dari satu narasumber, serta sebaiknya tidak menggunakan narasumber yang direferensikan oleh narasumber lainnya, mintalah referensi tentang narasumber kepada masyarakat secara acak.

    Kebenaran keterangan dari narasumber anda masih banyak yang diragukan.

    Sekian dan terimakasih.
    Wassalam

    BalasHapus